by

Benny Hutapea Pertanyakan ke Pemerintah Nasib Sertifikasi 20 Eksportir Walet ke Tiongkok

Jakarta, Indonesianews.co.id 

Benny Hutapea, Panasehat Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN) mempertanyakan nasib 20 eksportir walet yang tak kunjung memperoleh sertifikat ekspor ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) meskipun permohonan itu sudah diajukan sejak tiga tahun lalu.

Hingga saat ini, di Indonesia terdapat 49 perusahaan yang telah terdaftar sebagai pemegang ET-SBW (Eksportir Terdaftar Sarang Burung Walet). Dari jumlah itu, hanya 23 perusahaan yang telah mendapatkan sertifikasi izin ekspor sarang burung walet ke RRT.

Adapun nasib 20 perusahaan eksportir walet yang sudah mendaftar untuk mendapatkan sertifikat ekspor sarang burung walet ke Tiongkok sejak 2018 masih belum jelas. “Sebagian sudah diaudit GACC, tapi sertifikasi ekspor ke RRT belum juga diperoleh,” katanya.

Benny berharap pemerintah bersungguh-sungguh dalam membantu dunia usaha untuk mendapatkan sertikasi ekspor sarang burung walet ke Tiongkok, terlebih di tengah upaya pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19 yang menyebabkan ekonomi global lesu.

Dia mengingatkan perintah Presiden Joko Widodo kepada para menterinya untuk melakukan reformasi besar-besaran terhadap ekosistem berusaha bagi eksportir. Semua persoalan yang menghambat kinerja ekspor harus dihapus satu per satu, sedangkan prosedur birokrasi yang mengganggu juga harus segera dipangkas.

Perintah Presiden Joko Widodo tersebut seharusnya ditangkap oleh para pembantunya, tidak terkecuali kementerian dan lembaga yang terkait dengan urusan ekspor sarang burung walet ke Tiongkok. “Akan tetapi, sejak perintah itu disampaikan, nasib 20 perusahaan eksportir walet itu, belum jelas juga,” katanya.

Data yang dikumpulkan PPSWN menyebutkan, Indonesia tercatat sebagai sumber sarang burung walet terbesar di dunia, sementara Tiongkok merupakan konsumen terbesar sarang burung walet secara global. Ekspor sarang burung walet Indonesia ke Tiongkok sepanjang 2020 mencapai US$413,6 juta.

Pada April 2021, Indonesia mengumumkan bahwa RRT akan mengimpor sarang burung walet asal Indonesia senilai US$1,13 miliar atau setara dengan Rp16 triliun. Kesepakatan tersebut diumumkan pasca kunjungan Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi, Menteri BUMN Erick Tohir dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi ke RRT.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan juga menyampaikan akan meningkatkan nilai perdagangan sarang burung walet Indonesia – Tiongkok secara signfikan guna menggenjot nilai perdagangan kedua negara dari US$ 31 miliar pada 2021 menjadi US$ 100 miliar pada 2024.

Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen untuk mendorong serta memberikan dukungan dan fasilitasi penuh terhadap eksportir produk sarang burung walet bahkan meminta importir sarang burung walet Tiongkok untuk melatih eksportir sarang burung walet Indonesia.

Benny meminta lembaga pemerintahan yang berkaitan dengan ekspor sarang burung walet ke Tiongkok agar memberikan perhatian yang serius terhadap masalah-masalah yang dihadapi para eksportir agar tidak terjadi hambatan dalam mendukung upaya pemerintah untuk menggenjot ekspor Indonesia ke Tiongkok.

Dia mendesak Kedutaan Besar RI di Beijing yang selama ini telah mengumpulkan berkas-berkas pengajuan registrasi sarang burung walet dari para eksportir Indonesia, untuk bernegosiasi lebih intensif kepada pemerintah Tiongkok.

Selain itu, Duta Besar RI diminta segera melakukan debottlenecking perizinan sarang walet dengan pihak-pihak terkait di RRT khususnya General Administration of China Customs (GACC) untuk semua pengajuan dokumen yang sudah diajukan ke RRT dengan target penyelesaian selambat-lambatnya akhir Juli 2021.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed