FUNJAGABUMI, Inovasi IoT UNJ yang Mengubah Sampah Menjadi Gerakan Ekonomi Sirkular

Metropolitan18 Views

Berawal dari Kepedulian Widya Parimita terhadap Peningkatan Volume Sampah di Lingkungan Kampus

 

 

Jakarta, Indonesianews.co.id

Keprihatinan terhadap peningkatan volume sampah dan belum optimalnya pengelolaan sampah di lingkungan kampus mendorong Dr. Widya Parimita, S.E., M.P.A. untuk menginisiasi pengembangan FUNJAGABUMI, sebuah inovasi berbasis Internet of Things atau IoT yang dirancang untuk mendukung pengelolaan sampah secara lebih cerdas, partisipatif, dan berkelanjutan.

Kepedulian tersebut muncul dari pengamatan Widya terhadap aktivitas kampus yang setiap hari menghasilkan sampah dari berbagai sumber, seperti kegiatan perkuliahan, perkantoran, kantin, aktivitas mahasiswa, kegiatan akademik, serta berbagai layanan pendukung universitas. Tanpa sistem pemilahan, pencatatan, pengangkutan, dan pengolahan yang terintegrasi, peningkatan volume sampah berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan yang semakin kompleks.

Bagi Widya, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya melalui penyediaan tempat sampah atau kegiatan kebersihan rutin. Diperlukan perubahan perilaku, dukungan teknologi, keterlibatan seluruh warga kampus, serta ekosistem pengelolaan sampah yang mampu memberikan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Komitmen tersebut semakin kuat melalui perannya sebagai Penanggung Jawab Program Penataan Kawasan Lingkungan Berbasis Kampus Hijau di Universitas Negeri Jakarta. Dalam peran tersebut, Widya menginisiasi berbagai upaya untuk mendorong terciptanya lingkungan kampus yang lebih tertata, bersih, sehat, hijau, dan berkelanjutan.

FUNJAGABUMI kemudian dikembangkan sebagai salah satu wujud nyata untuk mengintegrasikan penelitian, teknologi, tata kelola lingkungan, dan gerakan perubahan perilaku di lingkungan kampus.

“Saya melihat bahwa volume sampah dari aktivitas kampus terus meningkat, sementara proses pemilahan dan pengelolaannya masih memerlukan penguatan. Dari kekhawatiran tersebut, muncul gagasan untuk menghadirkan sebuah sistem yang tidak hanya membantu mengelola sampah, tetapi juga mengedukasi, melibatkan, dan memberikan penghargaan kepada masyarakat yang telah berperilaku ramah lingkungan,” ujar Widya Parimita.

Hilirisasi Penelitian Menjadi Inovasi Nyata

FUNJAGABUMI merupakan hasil hilirisasi penelitian berjudul “Enhancing Green Economic Circular Ecosystem Growth through AI-Based Waste Management Gamification” yang dipublikasikan dalam International Review of Management and Marketing, Volume 15, Nomor 1 Tahun 2025.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Widya Parimita bersama Terrylina Arvinta Monoarfa, Rahmi, Setyo Ferry Wibowo, dan Ayatulloh Michael Musyaffi dari Universitas Negeri Jakarta.

Melalui FUNJAGABUMI, hasil penelitian tidak berhenti sebagai artikel ilmiah, tetapi diterjemahkan menjadi karya inovatif yang telah diimplementasikan untuk mendukung pengelolaan sampah. Inovasi ini dirancang untuk mendorong masyarakat agar lebih sadar, aktif, dan konsisten dalam memilah serta mengelola sampah.

Nama FUNJAGABUMI membawa semangat untuk menjaga bumi melalui aktivitas yang menyenangkan, mudah dilakukan, terukur, dan memberikan manfaat nyata. Teknologi IoT dimanfaatkan untuk menghubungkan aktivitas pengelolaan sampah dengan proses pemantauan, pencatatan, pemberian informasi, pengumpulan data, dan penguatan partisipasi pengguna.

“Penelitian tidak seharusnya berhenti pada publikasi ilmiah. Penelitian harus mampu menjawab persoalan nyata dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. FUNJAGABUMI menjadi bentuk tanggung jawab akademik kami untuk mengubah pengetahuan menjadi solusi yang dapat diterapkan,” ungkap Widya.

Menjawab Persoalan Nyata Pelaku Usaha dan Warga Kampus

Pengembangan FUNJAGABUMI dilatarbelakangi oleh persoalan pengelolaan sampah yang masih dihadapi masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, khususnya usaha makanan yang beroperasi di kantin, kafetaria, dan kawasan komersial.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku UMKM pada dasarnya telah memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Mereka melakukan berbagai tindakan sederhana, seperti memisahkan sampah, menghemat air dan listrik, mengumpulkan botol bekas, menggunakan kembali kardus, serta mengingatkan orang lain untuk menjaga kebersihan.

Namun, kepedulian tersebut belum sepenuhnya didukung oleh fasilitas, pelatihan, informasi, dan teknologi yang memadai. Sebagian besar pelaku usaha juga belum mengenal aplikasi pengelolaan sampah yang dapat membantu mereka memperoleh manfaat ekonomi dari sampah yang dihasilkan.

Temuan tersebut menjadi dasar pengembangan FUNJAGABUMI sebagai penghubung antara kesadaran lingkungan, perubahan perilaku, pemanfaatan teknologi, dan penciptaan nilai ekonomi dari sampah.

Dalam konteks kampus, inovasi ini diharapkan dapat melibatkan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, pengelola kantin, pelaku UMKM, unit kerja, petugas kebersihan, bank sampah, serta mitra pengelola lingkungan dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

Menggabungkan IoT, Gamifikasi, dan Ekonomi Sirkular

Salah satu keunggulan FUNJAGABUMI terletak pada penggabungan teknologi IoT dengan pendekatan gamifikasi. Pengelolaan sampah tidak lagi ditempatkan semata-mata sebagai kewajiban, tetapi sebagai aktivitas bersama yang menarik, terukur, dan memberikan penghargaan kepada pengguna.

Melalui pendekatan tersebut, pengguna didorong untuk lebih konsisten dalam memilah, mengumpulkan, dan menyerahkan sampah berdasarkan kategorinya. Aktivitas positif pengguna dapat dicatat dan dikembangkan menjadi sistem poin, penghargaan, insentif, maupun manfaat ekonomi melalui integrasi dengan program bank sampah dan mitra pengelola sampah.

Pendekatan gamifikasi dipilih karena perubahan perilaku lingkungan membutuhkan proses yang berkelanjutan. Masyarakat perlu memperoleh informasi yang mudah dipahami, pengalaman penggunaan teknologi yang sederhana, serta penghargaan atas tindakan positif yang telah dilakukan.

FUNJAGABUMI juga mendukung prinsip ekonomi sirkular, yaitu mempertahankan material agar tetap memiliki nilai guna selama mungkin. Sampah tidak lagi dipandang sebagai material yang harus segera dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dikumpulkan, dipilah, digunakan kembali, didaur ulang, atau diolah menjadi produk bernilai tambah.

Dengan pendekatan tersebut, FUNJAGABUMI tidak hanya berkontribusi terhadap pengurangan volume sampah, tetapi juga membuka peluang terciptanya nilai ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi dengan pelaku usaha pengelolaan sampah.

Mendukung Program Kampus Hijau UNJ

Sebagai Penanggung Jawab Program Penataan Kawasan Lingkungan Berbasis Kampus Hijau di UNJ, Widya menempatkan FUNJAGABUMI sebagai bagian dari upaya membangun tata kelola lingkungan kampus yang berkelanjutan.

Program kampus hijau tidak hanya berkaitan dengan penanaman pohon atau penataan taman, tetapi mencakup perubahan menyeluruh dalam cara universitas mengelola lingkungan. Hal tersebut meliputi pengelolaan sampah, efisiensi penggunaan energi dan air, penataan ruang terbuka hijau, kebersihan kawasan, keterlibatan warga kampus, serta penggunaan teknologi untuk mendukung pengambilan keputusan.

Melalui FUNJAGABUMI, data pengelolaan sampah dapat dimanfaatkan sebagai dasar untuk melakukan evaluasi, menyusun kebijakan, menentukan prioritas penanganan, dan meningkatkan efektivitas program lingkungan kampus.

Inovasi ini juga menjadi sarana edukasi untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kampus hijau tidak dapat diwujudkan hanya oleh pimpinan atau petugas kebersihan. Kampus hijau membutuhkan keterlibatan aktif seluruh warga universitas.

“Kampus hijau bukan hanya tentang kawasan yang terlihat asri, tetapi tentang terbentuknya budaya yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. FUNJAGABUMI kami hadirkan untuk membantu membangun budaya tersebut melalui teknologi, edukasi, dan kolaborasi,” jelas Widya.

Dari Publikasi Menuju Implementasi

Implementasi FUNJAGABUMI menjadi bukti bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjawab permasalahan lingkungan melalui inovasi yang aplikatif.

Proses pengembangan FUNJAGABUMI tidak berhenti pada penyusunan konsep atau prototipe. Inovasi tersebut telah diimplementasikan sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pengelolaan sampah yang melibatkan pengguna, pelaku usaha, pengelola kawasan, bank sampah, mitra bisnis, dan berbagai pemangku kepentingan.

Implementasi tersebut sekaligus menjadi ruang pembelajaran untuk mengevaluasi penerimaan pengguna, efektivitas teknologi, perubahan perilaku, serta potensi pengembangan sistem dalam skala yang lebih luas.

“Kebanggaan terbesar dari sebuah penelitian bukan hanya ketika hasilnya berhasil diterbitkan dalam jurnal internasional, tetapi ketika hasil penelitian tersebut hadir di tengah masyarakat dan memberikan perubahan. FUNJAGABUMI merupakan langkah kami untuk mengubah pengetahuan menjadi solusi, sampah menjadi nilai, dan kepedulian menjadi gerakan bersama,” tambah Widya.

Mendorong Perubahan Perilaku Hijau

FUNJAGABUMI dikembangkan bukan sekadar sebagai perangkat teknologi, tetapi sebagai instrumen perubahan perilaku. Keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat, melainkan juga oleh kesediaan individu untuk menggunakan teknologi dan menjalankan perilaku ramah lingkungan secara konsisten.

Karena itu, pengembangan FUNJAGABUMI memperhatikan tiga aspek utama yang ditemukan dalam penelitian, yaitu pola pikir hijau, keterbukaan terhadap inovasi, serta dukungan organisasi dan pemerintah.

Pola pikir hijau ditunjukkan melalui kepedulian terhadap pengurangan sampah, penghematan energi, penggunaan kembali material, dan perlindungan lingkungan. Keterbukaan terhadap inovasi terlihat dari keberanian pengguna untuk mencoba, mempelajari, dan memanfaatkan teknologi baru. Sementara itu, dukungan organisasi dan pemerintah diwujudkan melalui kebijakan, sosialisasi, pelatihan, penyediaan fasilitas, dan pembangunan ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Integrasi ketiga aspek tersebut membuat FUNJAGABUMI berpotensi menjadi model pengelolaan sampah berbasis teknologi yang tidak hanya efektif secara operasional, tetapi juga kuat dari sisi sosial, perilaku, dan kelembagaan.

Karya Inovatif yang Membanggakan UNJ dan Indonesia

Pengembangan FUNJAGABUMI memperkuat posisi Universitas Negeri Jakarta sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan inovasi untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.

Karya tersebut memperlihatkan bagaimana kepedulian seorang akademisi terhadap kondisi lingkungan dapat berkembang menjadi penelitian, inovasi teknologi, program kelembagaan, dan gerakan perubahan yang melibatkan berbagai pihak.

FUNJAGABUMI juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals, khususnya konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, kota dan permukiman yang berkelanjutan, penanganan perubahan iklim, serta kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan.

Ke depan, FUNJAGABUMI diharapkan dapat terus dikembangkan dan direplikasi di lingkungan kampus, sekolah, perkantoran, sentra UMKM, kantin, pasar, kawasan komersial, dan komunitas masyarakat. Kolaborasi dengan pemerintah, industri, bank sampah, pengembang teknologi, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam memperluas manfaat inovasi tersebut.

FUNJAGABUMI menunjukkan bahwa teknologi menjadi lebih bermakna ketika dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat. Inovasi ini juga menegaskan bahwa langkah menjaga bumi dapat dimulai dari tindakan sederhana, yaitu memilah sampah, mengubah kebiasaan, menggunakan teknologi secara bijaksana, serta membangun kolaborasi.

FUNJAGABUMI bukan sekadar inovasi IoT. FUNJAGABUMI adalah hasil kepedulian, penelitian, kepemimpinan, dan keberanian untuk mengubah persoalan sampah menjadi gerakan ekonomi sirkular. Sebuah karya inovatif dari Universitas Negeri Jakarta untuk bumi yang lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *