IFMA Bersama Tujuh Perguruan Tinggi Perkuat Literasi Keuangan dan Kewirausahaan Buruh Migran Indonesia di Hong Kong

Pendidikan14 Views

Hong Kong, Indonesianews.co.id

Komitmen perguruan tinggi Indonesia dalam memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat internasional kembali diwujudkan melalui kegiatan International Community Service yang diselenggarakan oleh The Indonesian Financial Management Association (IFMA) bekerja sama dengan PCI Pagar Nusa Hong Kong. Kegiatan ini merupakan kolaborasi tujuh perguruan tinggi di Indonesia, yaitu Universitas Graha Nusantara, Universitas Dehasen Bengkulu, Universitas Riau Kepulauan, Universitas Pakuan, Universitas Cenderawasih, Universitas Khairun, dan Universitas Pelita Bangsa, sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat di tingkat internasional.

Mengangkat tema “Entrepreneurship and Financial Management Training for Indonesian Migrant Workers: Smart Salary Management, Saving, and Investment Strategies for Future Reintegration,” kegiatan dilaksanakan di Victoria Park, Hong Kong, dan diikuti oleh puluhan Buruh Migran Indonesia (BMI) dari berbagai wilayah di Hong Kong. Program ini bertujuan memperkuat kapasitas para pekerja migran dalam bidang kewirausahaan, literasi keuangan, pengelolaan investasi, serta perencanaan keuangan jangka panjang sebagai bekal ketika kembali ke Indonesia.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Pendiri IFMA, Prof. Dr. Suherman, M.Si. Dalam sambutannya beliau menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang tidak hanya terbatas pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri.

Menurut Prof. Suherman, Buruh Migran Indonesia merupakan salah satu pahlawan devisa bangsa yang telah memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas di bidang kewirausahaan, pengelolaan keuangan, dan investasi merupakan langkah strategis agar hasil kerja keras para pekerja migran selama berada di luar negeri dapat menjadi modal produktif untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga setelah kembali ke tanah air.

Sementara itu, perwakilan PCI Pagar Nusa Hong Kong menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Organisasi tersebut menyatakan selalu membuka ruang kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi, organisasi profesi, maupun lembaga lainnya dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia di Hong Kong.

Dalam sambutannya disampaikan bahwa tidak sedikit anggota maupun Buruh Migran Indonesia yang telah bekerja di Hong Kong selama belasan bahkan puluhan tahun. Mereka telah mampu mengumpulkan tabungan yang cukup besar, namun masih memerlukan pendampingan dalam memulai usaha, memilih instrumen investasi yang sesuai, serta mempersiapkan kehidupan ekonomi yang mandiri ketika kembali ke Indonesia.

Sesi utama pelatihan disampaikan oleh Prof. Agung Dharmawan Buchdadi, S.T., M.M., Ph.D., yang mengawali kegiatan dengan melakukan asesmen singkat mengenai tingkat literasi keuangan peserta. Asesmen tersebut dilakukan secara interaktif untuk memperoleh gambaran mengenai pemahaman dasar para Buruh Migran Indonesia terhadap berbagai konsep keuangan yang berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi mereka.

Hasil asesmen menunjukkan temuan yang menarik. Sebagian besar peserta telah memiliki kemampuan literasi keuangan yang cukup baik, terutama mengenai nilai tukar mata uang (exchange rate). Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari aktivitas mereka yang secara rutin mengirimkan penghasilan ke Indonesia sehingga perubahan nilai tukar Hong Kong Dollar terhadap Rupiah menjadi informasi yang sangat sensitif dan selalu dipantau.

Namun demikian, asesmen juga menunjukkan bahwa pemahaman mengenai beberapa konsep penting dalam pengelolaan keuangan masih belum merata. Istilah seperti inflasi, risiko usaha, risiko investasi, diversifikasi investasi, serta hubungan antara risiko dan tingkat keuntungan (risk and return) masih memerlukan penguatan melalui edukasi yang lebih sistematis.

Menurut Prof. Agung, kondisi tersebut menunjukkan bahwa meningkatnya akses masyarakat terhadap berbagai produk investasi belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan kualitas literasi keuangan.

“Kemampuan memperoleh pendapatan di luar negeri merupakan modal yang sangat baik. Namun yang jauh lebih penting adalah bagaimana pendapatan tersebut dapat dikelola menjadi aset produktif yang mampu memberikan kesejahteraan jangka panjang. Literasi keuangan menjadi fondasi utama agar setiap keputusan investasi dilakukan secara rasional, terencana, dan sesuai dengan profil risiko masing-masing individu,” jelas Prof. Agung.

Suasana diskusi berlangsung sangat interaktif. Para peserta aktif menyampaikan pengalaman mereka dalam mengelola keuangan selama bekerja di Hong Kong. Salah satu temuan yang cukup menarik adalah bahwa beberapa Buruh Migran Indonesia telah mulai berinvestasi pada berbagai instrumen keuangan. Namun sebagian keputusan investasi tersebut masih dilakukan berdasarkan informasi yang diperoleh melalui media sosial maupun rekomendasi komunitas tanpa memahami secara menyeluruh mengenai risiko investasi maupun legalitas produk keuangan yang dipilih.

Salah satu narasumber dari kalangan Buruh Migran Indonesia, Juni Astuti, menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan oleh para pekerja migran Indonesia.

“Selama ini banyak teman-teman memperoleh informasi investasi dari media sosial atau rekomendasi sesama pekerja. Melalui kegiatan ini kami menjadi lebih memahami bahwa setiap keputusan investasi harus didasarkan pada pengetahuan yang benar, memahami risiko, serta memiliki tujuan keuangan yang jelas, bukan sekadar mengikuti tren,” ujar Juni Astuti.

Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga semakin banyak Buruh Migran Indonesia yang memiliki kemampuan mengelola pendapatan, menyusun perencanaan usaha, serta mempersiapkan masa depan ekonomi keluarga secara lebih baik.

Pada sore harinya, rombongan The Indonesian Financial Management Association (IFMA) melanjutkan agenda dengan melakukan kunjungan silaturahmi ke PCI Nahdlatul Ulama (NU) Hong Kong. Rombongan diterima secara langsung oleh Ketua Tanfidziyah PCI NU Hong Kong, Suparno, bersama Rais Syuriyah Kistiawanto beserta jajaran pengurus.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Dalam diskusi tersebut dibahas berbagai peluang kolaborasi antara organisasi masyarakat Indonesia di Hong Kong dengan perguruan tinggi di Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, pemberdayaan ekonomi, kewirausahaan, dan peningkatan literasi keuangan bagi Buruh Migran Indonesia.

Pengurus PCI NU Hong Kong menjelaskan bahwa selama ini organisasi telah beberapa kali bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di Indonesia melalui kegiatan pendidikan, pelatihan kewirausahaan, pembinaan masyarakat, serta berbagai program sosial lainnya. Mereka menyambut baik kehadiran IFMA bersama tujuh perguruan tinggi mitra sebagai awal dari kerja sama yang lebih luas dan berkelanjutan.

Delegasi IFMA mengaku sangat terinspirasi oleh semangat perjuangan para Buruh Migran Indonesia yang telah mengabdikan bertahun-tahun masa produktifnya di Hong Kong demi meningkatkan kesejahteraan keluarga di Indonesia. Namun demikian, diskusi juga mengungkap tantangan besar yang masih dihadapi sebagian pekerja migran ketika memasuki masa purna kerja. Meskipun telah berhasil mengumpulkan tabungan dalam jumlah yang relatif memadai, banyak di antara mereka yang belum memiliki perencanaan usaha maupun strategi investasi jangka panjang ketika harus kembali ke tanah air karena berakhirnya kontrak kerja maupun kondisi kesehatan.

Melihat kondisi tersebut, IFMA bersama ketujuh perguruan tinggi memandang perlunya membangun ekosistem pendampingan yang lebih komprehensif dengan melibatkan organisasi masyarakat Indonesia di Hong Kong, perguruan tinggi, pemerintah, serta perbankan nasional Indonesia yang memiliki layanan di Hong Kong. Pendampingan tersebut diharapkan mencakup pendidikan literasi keuangan, konsultasi investasi, penyusunan rencana bisnis, pendampingan kewirausahaan, hingga akses terhadap pembiayaan usaha ketika para Buruh Migran Indonesia kembali ke tanah air.

Kegiatan pengabdian masyarakat internasional ini menjadi bukti bahwa pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak mengenal batas geografis. Kolaborasi antara organisasi profesi, perguruan tinggi, dan komunitas Indonesia di luar negeri merupakan bentuk nyata kontribusi akademisi dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul, mandiri, dan berdaya saing global.

Melalui kegiatan ini, IFMA bersama seluruh perguruan tinggi mitra berkomitmen untuk terus memperluas jejaring kerja sama internasional dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Diharapkan sinergi tersebut mampu melahirkan berbagai program berkelanjutan yang memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan Buruh Migran Indonesia, baik selama bekerja di luar negeri maupun setelah kembali membangun kehidupan di Indonesia.

________________________________________

Tentang IFMA

The Indonesian Financial Management Association (IFMA) merupakan organisasi profesi yang menghimpun akademisi, peneliti, praktisi, dan pemerhati di bidang manajemen keuangan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. IFMA berkomitmen untuk mendorong pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, pendidikan, serta pengabdian kepada masyarakat melalui kolaborasi nasional maupun internasional. Selain aktif menyelenggarakan konferensi ilmiah dan forum akademik, IFMA juga mengembangkan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada peningkatan literasi keuangan, kewirausahaan, dan penguatan kapasitas ekonomi masyarakat sebagai bagian dari kontribusi nyata terhadap pembangunan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *